Senin, 07 Juli 2014
0113. WAKTU DJOGO :
BELANDA KECIL :
Ini kejadian agak langka kalau tdk salah ake hanya menyaksikannya 2 / 3 kali, pagi2 sekali semua pekerja sadap sudah berkumpul, ada yg didepan halaman kantor perkebunan dilapangan rumputnya, ada yg dipinggir jalan dan di lapangan tenis, semua Djogo menghadapi deretan mangkok aluminium tempat getah yg sudah dipoles mengkilat. Satu orang menghadapi duaratusan lebih mangkuk, itu adalah jumlah pohon karet yg ada di kanomerannya.
Satu orang tukang sadap mempunyai dua kanomeran kebon karet sadapan, jika hari ini nyadap kanomeran satu, besok nyadap pindah ke kanomeran dua, lusa balik lagi ke kanomeran satu, begitu terus bergiliran, tiap pohon karet disadap dua hari sekali, jadi sehari disadap sehari istirahat, makanya pohon karetnya panjang umur, sampai besar2 dan tinggi.Semua orang Djogo mempertontonkan mangkok sadapan utk dinilai kebersihannya oleh Kawasa perusahaan yg orang Belanda, namanya tuan Kamender, tinggi besar putih dan berhidung mancung.
Dahulu ake kira dia itu orang tua karena besar dan tinggiii sekali, belakangan baru tahu setelah dia dikabarkan nangis2 mau pulang ke nagri Belanda dan meminta maaf sama pekerja yg tak sengaja dimarahi. Memang katanya dia baru berumur 17 tahun, dan waktu barangkat ke Indonesia dipesani oleh ibunya "jangan memarahi orang Indonesia", ternyata bekas penjajah juga ada yg baik hati dan taat kepada pesan ibunya ya.
Tuh dia datang diiringi Ofsinder kebun dan di sambut para mandor masing2, dia berbicara sama Ofsinder sambil tongkatnya me-mukul2 mangkok sadapan yg ternyata kurang bersih, ini bersih tuan saya cuci tiap hari dan digosok pake abu dapur, aaa…tidak..tidak ini tidak bagus yaaah… Tuan berkeliling terus diiringi Ofsinder, mandor besar dan para mandor masing2.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar