Sabtu, 12 Juli 2014
012321. SEPAT BANJAR :
Ada jalur perdagangan lain, Lumbung Kawali Bunter Cisaga Banjar, kali ini kavilah dagang dibagi 2, kakek dan kakak kedua berangkat ke jalur tradisional Cirebon, Bpk ake sama kaka ke1 ke jalur Banjar. Berangkat dari kampung dini hari lepas Kawali ngambil jalur Bunter, sore hari sudah lewat Cisaga dan istirahat di Cigerendeng.
Warung jaga tempat istirahat pedagang pikulan, sajian khasnya adalah goreng ikan asin Sepat Banjar yg baru diangkat dari bleeng-an, ukuran telapak tangan orang dewasa, dagingnya empuk gurih dan gahar dan "ngepruy", dimakan dg nasi akeul beras merah, sama sambal terasi dan lalapan. Mengantar tidur di-bale2 begitu pulas, badan bekas payah ditambah perut kenyang, bangun subuh menuju pasar Banjar.
Kakak ke1 seorang petualang, karena barang dagangan blm habis terjual dia usul, bagaimana kalau kita coba jualan ke Pengandaran, ok, mereka berangkat menyusuri jalur kereta api Banjar Cijulang. Sengaja memilih jalur kereta api karena jln relatif datar dan tdk melingkar, semacam track lari marathon tapi sambil bawa pikulan. Ada yg harus dibiasakan dari track ini, pola langkah kaki dan ayunan pikulan harus seirama dg bentangan bantalan kereta,
dlm 1-2 kilo meter sudah klop, aman.
Sampai di halteu Padaherang pasar sudah bubar, pembeli sepi perjalanan dilanjutkan, jalur kereta api terasa cocok dg pelari marathon pikulan.
Menjelang dhuhur sudah masuk di stasiun Banjar Sari, barang dagangan bertambah ringan sebagian ditenteng pembeli, perjalanan berlanjut tetap menyusur jalur kereta api, udara sore hari dg semilir angin gunung terasa membawa kesegaran, setelah seharian dipanggang panas matahari.
Masuk halteu Kalipucang sudah menjelang magrib, istirahat dan makan diwarung dg sajian udang goreng tepung tangkapan sore, renyah tepung berasnya dan manis terasa daging udangnya, sungguh pengantar tidur yg nikmat.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar